Jakarta, 3 November 2026 – Guru Besar Biokimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof. Muktiningsih Nurjayadi, mengembangkan inovasi kit deteksi bakteri patogen bernama Indogen Pro yang mampu mempercepat proses identifikasi bakteri penyebab keracunan makanan dari sekitar 24 jam menjadi hanya 2–3 jam. Inovasi berbasis teknologi biologi molekuler ini dikembangkan bersama tim peneliti sejak 2016 dan diproyeksikan mulai diluncurkan secara komersial pada Januari 2027. Pengembangan Indogen Pro menjadi salah satu kontribusi riset FMIPA UNJ dalam mendukung keamanan pangan dan perlindungan kesehatan masyarakat.

Inovasi tersebut diperkenalkan dalam kegiatan Strategic Platform for Action, Research, and Collaboration (SPARC) UNJ 2026 melalui sesi Insight Session bertajuk “From Molecular Innovation to Sustainable Food Safety” yang berlangsung di Aula Maftuchah Yusuf UNJ, Selasa (3/11/2026). Dalam kesempatan tersebut, Prof. Muktiningsih memaparkan perjalanan penelitian, pengembangan teknologi, hingga proses hilirisasi Indogen Pro agar dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh masyarakat dan industri.
Indogen Pro merupakan akronim dari Indonesia, Genomic, and Proteomic. Kit ini dikembangkan untuk mendeteksi keberadaan bakteri patogen penyebab keracunan makanan dengan memanfaatkan teknologi Polymerase Chain Reaction (PCR) konvensional dan real-time PCR. Berbeda dengan metode konvensional melalui kultur bakteri yang membutuhkan waktu hingga 24 jam, teknologi ini memungkinkan proses identifikasi berlangsung jauh lebih cepat, yakni sekitar 2–3 jam.

Saat ini, Indogen Pro telah dikembangkan untuk mendeteksi 17 jenis bakteri patogen. Setiap jenis bakteri memiliki dua varian pengujian, yaitu menggunakan PCR konvensional dan real-time PCR. Satu kit dirancang untuk mendukung hingga 50 reaksi pengujian. Penggunaannya juga relatif praktis karena hanya membutuhkan sampel dalam volume kecil yang selanjutnya diproses menggunakan mesin PCR.
Penelitian Indogen Pro dimulai pada 2016 melalui kolaborasi dengan Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri. Dalam proses pengembangannya, tim peneliti melewati tiga tahapan utama, yaitu eksplorasi dan validasi, pengujian efikasi, serta hilirisasi produk. Tahapan tersebut mencakup identifikasi gen potensial sebagai penanda bakteri patogen, perancangan primer, serta pengujian sensitivitas dan spesifisitas untuk memastikan ketepatan hasil deteksi.
Untuk menguji efektivitas teknologi, tim peneliti juga melakukan pengujian menggunakan sampel pangan nyata. Penelitian dilakukan terhadap sampel ayam mentah yang dikumpulkan dari 30 pasar di DKI Jakarta serta 50 sampel ayam bakar. Sampel tersebut diperiksa menggunakan tiga pendekatan, yakni metode kultur konvensional, PCR, dan real-time PCR. Selain itu, pengujian stabilitas produk dilakukan pada berbagai kondisi suhu penyimpanan dan kompatibilitas dengan sejumlah platform mesin PCR untuk memastikan produk dapat digunakan secara konsisten di berbagai fasilitas laboratorium.

Potensi pemanfaatan Indogen Pro juga telah dibuktikan melalui penggunaan secara terbatas oleh Puslabfor Polri pada 2025, ketika pemeriksaan bakteri pada sampel makanan menjadi salah satu kebutuhan penting dalam penanganan kasus keracunan pangan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kit hasil pengembangan tim UNJ dapat membantu mempercepat proses pemeriksaan dengan hasil yang akurat.
Menurut Prof. Muktiningsih, kecepatan identifikasi bakteri bukan hanya berkaitan dengan efisiensi waktu pemeriksaan, tetapi juga memiliki peran penting dalam mendukung penanganan kasus keracunan makanan. Hasil identifikasi yang lebih cepat dapat membantu tenaga kesehatan dan pihak terkait memperoleh informasi awal mengenai penyebab kontaminasi sehingga langkah penanganan pasien dan pengendalian risiko dapat dilakukan secara lebih tepat waktu.
Selain dipaparkan dalam sesi ilmiah, Indogen Pro juga ditampilkan dalam Innovation Exhibition SPARC 2026 di Aula Latief Hendraningrat UNJ. Pengunjung berkesempatan melihat secara langsung produk inovasi tersebut sekaligus memperoleh penjelasan mengenai prinsip kerja dan potensi pemanfaatannya. Menariknya, mahasiswa yang terlibat dalam penelitian turut berpartisipasi menjaga stan pameran dan memperkenalkan hasil pengembangan teknologi tersebut.
Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dalam perjalanan riset Indogen Pro. Melalui penelitian ini, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam pengembangan metode biologi molekuler, pengujian laboratorium, analisis hasil penelitian, hingga memahami proses hilirisasi produk. Bahkan, pada 2026, tim mahasiswa yang terlibat dalam pengembangan kit ini berhasil meraih Platinum Award dalam International Invention and Innovation Competition (I3C) serta Gold Medal pada Innovation World Cup (IWC).
Dalam upaya membawa hasil penelitian menuju tahap komersialisasi, pengembangan Indogen Pro juga melibatkan tiga mitra industri dengan peran yang saling melengkapi. PT Setara Bio Science berperan dalam penyediaan bahan baku, PT Bestari Sukses Makmur dipersiapkan sebagai mitra produksi, sedangkan PT Indolab Utama akan mendukung distribusi produk kepada pengguna. Indogen Pro juga telah memperoleh izin edar dari Kementerian Kesehatan dan direncanakan mulai diluncurkan pada awal Januari 2027.
Keberhasilan pengembangan Indogen Pro menjadi bukti kontribusi FMIPA UNJ dalam menghasilkan penelitian berbasis ilmu pengetahuan yang berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat. Inovasi ini sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan riset di lingkungan fakultas tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pada penciptaan teknologi yang memiliki potensi pemanfaatan dan nilai tambah bagi masyarakat.
Melalui inovasi tersebut, FMIPA UNJ berharap semakin banyak dosen dan mahasiswa yang terdorong untuk mengembangkan penelitian secara berkelanjutan, berani menghadirkan solusi atas berbagai permasalahan, serta membangun kolaborasi dengan mitra industri dan lembaga terkait. Ke depan, FMIPA UNJ berkomitmen untuk terus memperkuat budaya riset dan inovasi agar hasil pengembangan ilmu pengetahuan dapat memberikan kontribusi nyata bagi keamanan pangan, kesehatan masyarakat, dan kemajuan bangsa.



