Pada hari Rabu, 1 April 2026, telah dilaksanakan
kegiatan Sit-In dan Forum Group Discussion (FGD) Program SEA Teacher Filipina
2026 dengan tema “Pedagogical Methods Used in Teaching Physics”.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Filipina, yaitu Ms. Nikki, yang
berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam pembelajaran fisika di negaranya.
Kegiatan ini bertujuan untuk memperkaya wawasan
calon guru fisika dalam menerapkan metode pedagogis yang inovatif, interaktif,
dan berbasis teknologi digital dalam proses pembelajaran. Dalam sesi sit-in,
peserta diajak untuk mengamati secara langsung bagaimana strategi pembelajaran
fisika diterapkan di kelas, sedangkan pada sesi FGD, peserta berdiskusi aktif
mengenai tantangan dan solusi dalam mengajar fisika di era digital.
Dalam pemaparannya, Ms. Nikki menekankan bahwa
seorang calon guru fisika perlu mempersiapkan berbagai aspek sebelum mengajar,
terutama dalam menghadapi tuntutan pembelajaran abad ke-21. Calon guru fisika
perlu memiliki penguasaan konsep yang mendalam agar mampu menjelaskan berbagai
fenomena fisika secara kontekstual dan aplikatif kepada siswa. Selain itu,
perencanaan pembelajaran yang efektif menjadi hal penting, di mana guru harus
mampu menyusun RPP atau modul pembelajaran yang mengintegrasikan pendekatan aktif
seperti problem-based learning, inquiry, dan STEM.
Dalam mendukung proses pembelajaran, pemanfaatan
digital tools juga sangat diperlukan. Ms. Nikki memperkenalkan beberapa tools
yang dapat meningkatkan pemahaman siswa, seperti PhET Simulation untuk
memvisualisasikan konsep abstrak secara interaktif, Tracker Video Analysis
untuk menganalisis gerak melalui video eksperimen, Phyphox sebagai aplikasi
berbasis smartphone untuk eksperimen sederhana menggunakan sensor, Algodoo
sebagai simulasi fisika khususnya pada konsep mekanika, serta Khan Academy
sebagai sumber belajar mandiri yang menyediakan video pembelajaran dan latihan
soal. Lebih lanjut, guru juga dituntut memiliki kemampuan dalam
mengintegrasikan teknologi secara tepat, tidak hanya sekadar menggunakannya,
tetapi juga mengaitkannya dengan tujuan pembelajaran dan kebutuhan siswa. Di
sisi lain, pengelolaan kelas yang interaktif dan kolaboratif harus dikembangkan
agar siswa aktif berdiskusi, bereksperimen, dan berpikir kritis. Terakhir,
evaluasi pembelajaran perlu dirancang berbasis HOTS (Higher Order Thinking
Skills), sehingga mampu mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa, bukan
hanya sekadar menghafal konsep.
Kegiatan ini berlangsung secara interaktif dan
mendapat antusiasme tinggi dari para peserta. Diskusi yang berlangsung tidak
hanya memperkaya wawasan, tetapi juga membuka perspektif baru mengenai praktik
pembelajaran fisika yang lebih inovatif dan relevan dengan perkembangan
teknologi.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para calon guru
fisika dapat lebih siap dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran yang
efektif, kreatif, dan berbasis teknologi, sehingga mampu meningkatkan kualitas
pendidikan fisika di masa depan.